"๐—”๐—ฝ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ต ๐˜€๐—ฎ๐—บ๐—ฎ ๐˜€๐˜‚๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ ๐—ฎ๐˜‡๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—ด๐—ผ๐—ป๐—ด๐—ด๐—ผ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป?"


Oleh: Sabrun Jamil Ismail


Akhir-akhir ini, media sosial dihiasi oleh gonggongan hujatan yang begitu dahsyat, bahkan provokasi yang begitu merusak tatanan sosial. Berangkat dari cekcok tersebut ada yang bertanya  "Apakah sama suara azan dengan gonggongan ๐Ÿค”?" Sebenarnya ini sesuatu yang tidak perlu dipertanyakan lagi, karena yang namanya menyamakan suara azan dengan gonggongan adalah sesuatu yang di luar etika dan sangat-sangat tidak beradab dalam perspektif Islam.


Namun ada hal yang perlu kita ketahui, apa sih sebenarnya maksud dari menyamakan suara azan dengan gonggongan anjing? Jangan sampai kita benar-benar menyamakan suara azan dengan gonggongan anjing, dengan cara ketika azan dikumandangkan kita malah tidak menggubris, seolah-olah seruan azan bukan panggilan untuk beribadah, di sini tanpa kita sadari kelakuan kita sudah menganggap suara azan tidak berfaedah.


Jika kita analogikan begini, saat muazzin mengumandangkan azan kita malah tidak ikut berjamaah, membiarkan dan melanjutkan aktivitas seperti biasa, seolah-olah kita sedang mendengar "anjing yang sedang bergonggong", yaa sudahlah. Karena ada istilah yang familiar "anjing menggonggong". Intinya kita tidak peduli bahwa suara azan adalah seruan untuk beribadah. 


Sampai di sini, ternyata kita terlalu fokus menyalahkan statement orang lain, padahal tanpa sadar kita sendiri sudah menyamakan suara azan dengan gonggongan yang tidak berfaedah๐Ÿ˜ญ.


Namun yang jadi pertanyaan "Apakah benar ada orang yang mengatakan suara azan sama seperti gonggongan anjing? Yaa di sini saya tidak ingin menyebutkan namanya. Namun setelah saya mendengar videonya, ternyata beliau seorang pejabat negara yang punya wewenang, maka beliau mengeluarkan sebuah aturan, "Speaker mesjid jangan terlalu nyaring, karena dapat mengganggu orang lain". Masalah ini pun menimbulkan pro dan kontra, yaa namanya juga hidup, ada yang setuju ada yang tidak.


Tapi persoalannya adalah ketika beliau mengatakan "Suara speaker jangan terlalu nyaring" indikasinya karna mengganggu orang lain. Kemudian diberikan contoh "andaikan ada orang memelihara anjing dan saat anjing itu bergonggong, kira-kira gonggongan anjing itu menyakiti orang lain atau tidak."


Nah, kalimat inilah yang diambil oleh netizen sebagai delik dari bahasa beliau, kemudian digoreng sedemikian rupa. Ini yang sangat berbahaya, bukan bahasanya, tapi potongan videonya. Seolah-olah beliau menyamakan suara azan dengan gonggongan anjing, hahaha.


Padahal dalam ilmu balaghah ada istilah Tasybih (penyerupaan) yang terdiri dari Musyabbah, Musyabbah bih, Adah Syabah dan Wajah Syabbah (sisi keserupaan). Contoh "Tengku itu seperti singa, laki-laki itu seperti singa. Nah di sini, penyebutan singa merupakan Tasybih, karena menyerupakan seorang "tengku" dengan "binatang" dan seorang "lelaki" dengan "binatang". Yang namanya binatang pasti diidentikkan dengan sesuatu yang tidak berakal. Namun kenapa saat "tengku" diserupakan dengan "binatang" kita tidak marah? Jawabannya karena kita merespon ucapan ini dengan cara yang positif, maka hasilnya pun positif juga.


Namun, jika kita merespon hal ini dengan negatif, maka yang kita dapatkan adalah benci terhadap orang yang menyamakannya, karena ia akan beranggapan bahwa singa adalah binatang buas yang ganas pula haram untuk dimakan, kenapa malah diserupakan dengan manusia?


Padahal, dalam penyebutan "tengku itu singa dan laki-laki itu singa", di situ sudah terjadi Tasybih dan memiliki Wajah Syabbah, yaitu sifat berani, sehingga orang yang berpikiran positif tidak akan mempermasalahkannya. 


Tengku itu singa adalah satu ungkapan penyerupaan seorang tengku yang beraninya bagaikan singa. Sebagaimana singa diidentikkan dengan berani, maka seorang tengku yang berani dikatakan bagaikan singa. Itulah Wajah Syabbahnya yaitu sama-sama memiliki sifat berani.


Nah, ketika ada orang yang mengatakan "speaker terlalu nyaring" dan menyamakannya dengan "gonggongan anjing", sebenarnya di situ sudah terjadi Tasybih dan Wajah Syabbahnya yaitu "mengganggu". Speaker nyaring mengganggu. Gonggongan anjing juga mengganggu. Menganggu orang lain adalah sesuatu yang dilarang dalam agama.


Sebagai kesimpulan, Islam adalah agama yang rahmatan li al-'alamin yang mengatur setiap tatanan kehidupan sosial, agar semua umat beragama merasakan kenyamanan dalam menjalani kehidupan. Mari kita perbaiki diri dari kekeliruan yang sudah berakar dalam benak kita. Sekarang kita melihat orang lain jauh dengan pandangan rahmat, sehingga lahir pemikiran yang salah terhadap sesama. Padahal hati yang kotor akan melahirkan dugaan yang kotor pula.


Abu Hasan as-Syadzili pernah berkata "Bagiku, tiada dosa yang lebih besar dibandingkan dua hal, cinta dunia secara berlebihan dan tenggelam dalam kebodohan secara sukacita."


ูŠูƒู†ูˆ ูˆุตู ุงู„ู‡ูˆู‰ ู‚ุฏ ุบู…ุฑ ุงู„ู‚ู„ุจ ุญุชู‰ ู„ุง ูŠุนุฑู ู…ุนุฑูุง ูˆู„ุง ูŠู†ูƒุฑ ู…ู†ูƒุฑุง

(ุงู…ุงู… ุงู„ุดุงุทุจูŠ)

Comments